Home

Sanggupkah Generasi Milenial Membawa Indonesia Maju Melesat

Vebma | 1 year ago

Sungguh ironis, negara Indonesia yang telah merdeka sejak 73 tahun silam, tepatnya sejak 1945, saat ini masih menyandang gelar sebagai negara berkembang. Beragam asumsi dan analisa tentang nasib bangsa Indonesia di masa depan, seakan terus  menjadi hantu yang kadang direspon secara menakutkan oleh sejumlah pihak.

Anak-anak bangsa yang pesimistik malah memberi prediksi cukup mengagetkan. Kata mereka Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Hal tersebut antara lain terungkap dari pidato tokoh nasional Prabowo Subiyanto, yang juga saat ini menjabat Dewan Pembina Partai Gerindra.

Meski pemerintah dalam berbagai kesempatan, baik dalam pergaulan domestic maupun internasional kerapkali menyatakan optimisme Indonesia bakal menjadi salah satu negara maju pada 2030. Tapi kehawatiran sejumlah pihak bahwa bangsa ini akan terjerumus perekonomiannya, juga bukanlah pernyataan tanpa alasan.  Apalagi jika berbicara tentang utang Indonesia yang kian menggunung, maka kalangan yang pesimis terhadap nasib bangsa seperti menemukan akar lasannya.

Untuk menangkan pesimisme masa depan Indonesia, pemerintah beberapa waktu lalu  mewujudkan sebuah kerangka pembangunan berkelanjutan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Millenium Development Goals (MDGs). Disahkan secara resmi pada tahun 2015. 

MDGs adalah sebuah program pembangunan berkelanjutan yang terdiri dari 17 tujuan dengan 169 target yang terukur dalam sebuah tenggat waktu, sejak tanggal disahkannya hingga tahun 2030 mendatang. Secara singkat, 17 tujuan itu dapat dirangkum dalam 3 aspek dasar yang sejalan dengan prioritas maupun realitas nasional.

Dalam aspek ekonomi, sustainable development atau MDGs ini berhubungan dengan perkembangan ekonomi serta mencari cara untuk memajukan perekonomian dalam jangka panjang tanpa menghabiskan modal alam. Sedang dalam aspek sosial, MDGs bisa disebut sebagai pembangunan yang berkutat pada manusia dalam hal berinteraksi, yang amat erat kaitannya dengan aspek budaya. Dalam aspek lingkungan, MDGs berkaitan dengan perlindungan lingkungan dan membatasi pembangunan agar tidak mencelakai alam maupun menambah berat pekerjaan rumah (PR) globalisasi yang sudah ada.

Tentu, tujuan mulia itu bukanlah hal yang mudah untuk dicapai tanpa adanya peran dari berbagai pihak. Kita tidak bisa membebankan saja semuanya kepada pemerintah dan PBB, dan mengharapkan hasil yang memuaskan. Kontribusi akademisi, politisi, non-governmental organization(NGO), perusahaan, serta elemen masyarakat lainnya sungguh dapat menunjang pembangunan yang sangat konkret.

Bayangkan sebuah negara dengan lebih dari 1.000 suku yang berbicara dalam 700 dialek berbeda, yang lebih lagi tersebar di antara 13.000 pulau sepanjang Samudra Pasifik. Bila Anda dapat membayangkan hal ini, inilah negara kita, Indonesia. Menyatukan satu bahasa dengan bahasa lain saja sudah cukup susah, seperti peristiwa pergantian nama belakang Kerajaan Inggris yang terkesan terlalu 'Jerman' sehingga Sang Raja harus mengganti nama menjadi Windsor hanya supaya rakyatnya lebih condong kepada monarki selama Perang Dunia. Lalu, bagaimanakah kabar negara tercinta ini, yang mengambil bhineka tunggal ika sebagai sumpahnya? 

Kekuatan lokal memerankan peran amat penting. Sebuah artikel dari PBB sendiri berucap bahwa masyarakat umum, pelajar, hingga pemimpin-pemimpin suku di Indonesia haruslah berpartisipasi lebih dari program lahiran tahun 2015 ini. Salah satu komentar yang pas untuk menggandeng hal ini datang dari Mira Tayyiba, Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, bahwa untuk mewujudkan MDGs dapat dimulai dari lingkungan kampus, yaitu mahasiswa dan ilmu pengetahuan itu sendiri.  Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dalam bidang ekonomi, mahasiswa yang umumnya anak-anak milenial yang besar dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, dapat membuka usaha berbasis ekonomi kreatif demi mengurangi pengangguran. Langkah kecil yang meninggalkan jejak banyak.

Zaman sekarang, mahasiswa tidak lagi hanya berperan sebagai penonton. Justru kaum mudalah yang notabenenya memiliki banyak peluang dalam membangun negeri. Seperti presiden pertama kita pernah berucap, 'Berilah aku 10 orang pemuda dan akan kuguncangkan dunia.' Ditambah lagi dengan status sebagai anak milenial yang telah disebutkan di atas, ada banyak kesempatan terbuka gratis untuk kaum muda berinovasi. Terlebih lagi, anak muda di Indonesia nyaris mencapai 1/3 dari jumlah penduduk.

Indonesia membutuhkan mereka yang muda dan mampu berpikir kritis, membuat analisis jernih, mampu terjun sekaligus membuat negeri ini terlibat dalam konsep Global Village (jadi bagian dunia), alias menghilangkan hambatan dalam perdagangan global namun tetap mengontrol agar perekonomian dalam negeri tidak dilindas produk luar. 

Ada banyak hal yang dapat dilakukan di dunia kampus. Sebab kampus memiliki suara yang banyak tidak dimiliki oleh instansi lain. Kampus dapat menjadi lembaga pemantau, dalam hal ini sebagai penyedia alat penelitian dan tenaga, juga sebagai pengkritik kinerja pemerintah apabila tidak maksimal dalam mewujudkan MDGs. 

Inilah tentunya tantangan yang lagi-lagi menekankan peran kaum muda sebagai keniscayaan yang menyertai pembangunan berkelanjutan. Dan, bila hal itu sudah terpenuhi, apakah target MDGs dapat terwujud dalam kurun waktu 7 maupun 12 tahun lagi? Biarlah kaum muda sendiri yang menjawab.

Sedikitnya terdapat tiga momentum penting yang mendukung ekonomi Indonesia melesat ke depannya.

Pertama, membaiknya pertumbuhan ekonomi dunia yang mendorong peningkatan volume perdagangan dan harga komoditas serta masuknya aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia.

Kedua, terus terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dalam beberapa tahun terakhir.

Ketiga, membaiknya keyakinan pelaku ekonomi terhadap perekonomian Indonesia melalui berbagai pengakuan positif dari dunia internasional, peringkat daya saing Indonesia yang membaik dan meningkatnya peringkat ease of doing business (EODB) serta meningkatnya investasi korporasi.

Simpul-simpul potensi Indonesia menjadi salah satu negara maju pada tahun 2030-2048, sedikit banyak akan ditentukan nasibnya oleh kemampuan generasi milenial memandang garis masa depan bangsanya sendiri.

 

 

Lihat Sumber

  • 0

  • 0


Rekomendasi Artikel

Kenapa Pria Gantleman Tak Cocok Pakai Kaos?

Tempo

1

5 Fakta St Regis, Tempat Menginap Kim Jong Un di Singapura Ini Punya Tarif Rp 387 Juta Permalam

Tribunnews

Masih Sulit Pakai Eyeliner? Intip di Sini 3 Jenis Eyeliner

Vemale

Ryuji Utomo dan Shabrina Ayu Sah Jadi Suami Istri, Netizen Malah Soroti Baju Pengantinnya

boombastis

Mungkin Tasbih dan Rosario Memang ditakdirkan Untuk Tetap Erat Pada Genggaman Jemari Kita Masing-Masing

Merryriana.co

Tulis komentar...