Home

Tembak Mati Adik Ipar, Mantan Wakapolres Lombok Tengah Dibebaskan dari Tuntutan

Okezone | 7 months ago

MEDAN – Mantan Wakapolres Lombok Tengah,

Kompol Fahrizal

dibebaskan dari tuntutan hukum atas kasus pembunuhan terhadap Jumingan (33), yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Peristiwa penembakan terjadi di rumah keluarga Fahrizal di Kawasan Medan Tembung, Kota Medan awal April 2018 lalu.

Pembebasan Fahrizal dari tuntutan hukum, dibacakan oleh Jaksa Penuntunt Umum (JPU) Randiman Tambunan pada persidangan dengan agenda tuntutan yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Medan, Senin (21/1/2019) siang.

Dalam persidangan itu, JPU menilai bahwa Fahrizal telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penembakan hingga tewasnya Jumingan. Namun mantan Kasat Reskrim Polresta Medan itu tidak dituntut karena mengalami gangguan jiwa.

"Intinya terbukti melanggar Pasal 338 KUHP, tapi terhadap terdakwa tidak dapat diminta pertanggungjwaban pidana karena pada saat kejadian, kondisi kejiwaan terdakwa terganggu. Jadi sesuai dengan ketentuan Pasal 44 KUHP jika terdakwa mengalami gangguan jiwa dia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana,"ujar Julisman, penasehat hukum Fahrizal.

Baca: 

Tembak Mati Adik Ipar, Wakapolres Lombok Tengah Terancam Hukuman Mati 

Baca: 

Tembak Adik Ipar, Wakapolres Lombok Tengah Diduga Belajar Ilmu Hitam

Julisman mengapreasiasi tuntutan yang dibacakan oleh JPU Randi Tambunan ini. Pasalnya hal ini, kata Julisman sesuai dengan fakta persidangan.

"Faktanya pada saat penembakan, terdakwa sedang mengalami gangguan kejiwaa sesuai keterangan dokter Rumah Sakit Jiwa M Ildrem. Jaksa sepertinya mengajukan tuntutan berdasarkan keterangan ahli kejiwaan itu," terangnya.

Meski tuntutan yang diajukan sudah sesuai fakta persidangan, namun Julisman mengaku timnya akan tetap mengajukan pembelaan pada persidangan sepekan mendatang. "Kami akan serahkan putusannya pada majelis hakim," sebutnya.

Dalam kasus itu, Kompol Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan karena menembak mati adik iparnya, Jumingan. Usai aksinya itu, Kompol Fahrizal menyerahkan diri ke Kantor Polisi.

Ia kemudian dinyatakan mengalami skizofrenia paranoid pada tanggal 23 April 2019 oleh dokter RS Jiwa Prof Dr Muhammad Ildrem, yang ditunjuk Polisi untuk melakukan pemeriksaan.

“Penembakan yang dilakukan Fahrizal terhadap Jumingan, dilakukan tanpa sadar atau di luar logika kesadarannya. Bahkan, terdakwa datang ke lokasi kejadian awalnya hanya untuk melihat ibunya Sukartini yang baru sembuh dari sakit,” tandasnya.

(fzy)

Lihat Sumber

  • 0

  • 0


Rekomendasi Artikel

5 Hal Gak Masuk Akal dalam Game RPG, Konyol deh Pokoknya!

Gamehubs

Ini Tiga Tempat Makan Pilihan Selama Masa PDKT

Gregetan

3

Tak Pandang Status, Seleb Cantik Ini Bersedia Dinikahi Tukang Ojek

Serumpi

9

Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Copot Anti Gores di Smartphone

JalanTikus

1

Kasus 1 Warga dan 19 Kerbau yang Tersambar Petir Bersamaan, Ternyata Petir Paling Ganas di Dunia Ada di Indonesia, Ini Lokasinya

Intisari-online

3

Tulis komentar...