Home

Tak Mau Ketinggalan dengan Musuh Bebuyutannya, Rusia Mulai Produksi Massal Rudal Hipersonik Bertenaga Nuklir Bahkan Sudah Berhasil Melakukan Uji Coba, Hasilnya Bikin Amerika Ketar-ketir

Intisari | 1 month ago

Militer Rusia mulai produksi rudal hipersonik bertenaga nuklir. (military.com)

Intisari-Online.com - Sikap militer Rusia semakin menjadi-jadi.

Bagaimana tidak militerRusia sudah mulai memproduksi rudal hipersonik bertenaga nuklir.

Halitu langsungmemicu kekhawatiran perang baru.

Memang apa lagi yang dilakukan militer Rusia kini?

Dilansir dariexpress.co.uk pada Senin (29/11/2021),Moskow telah mengklaim bahwa rudalhipersonik itu bisa menempuh kecepatan 6670mph.

Selain itu, rudalhipersonik juga membawa hulu ledak nuklir yang diklaim tak terbendung.

Rudal itu telah dijuluki rudal Zircon oleh Kremlin.

“Produksi serial rudal Zircon sedang berlangsung di NPO Mashinostroyenia," kata sumber dari Rusia.

"Uji coba produk ini akan terus berlanjut.”

Ia juga menambahkan bahwa uji pengembangan penerbangan rudal hipersonik Zircon dari kapal induk bawah laut setelah dua uji peluncuran yang sukses akan dilanjutkan.

Khususnya dari kapal selam bertenaga nuklir Proyek 885M (Yasen-M) yang dimodifikasi pada tahun 2024.

Perlu Anda tahu, rudal hipersonik multiguna Zircon dirancang untuk menyerang target laut dan darat.

Presiden Putin sebelumnya mengatakan bahwa rudal hipersonik Zircon mampu terbang di Mach 9 dan memiliki jangkauan sekitar 620 mil.

Rusia bermaksud untuk melengkapi kapal selam dan kapal permukaannya dengan sistem rudal hipersonik Zircon.

Menambahkan Zircon ke berbagai kapal dan kapal selam dapat secara signifikan meningkatkan mampu kemampuan keseluruhan Angkatan Laut Rusia.

Rudal semacam itu menjadi perhatian karena sistem peringatan dini tradisional Amerika Serikat (AS) mungkin tidak dapat melihat senjata itu datang menyerang.

Senjata hipersonik seperti Zircon 3M22 Rusia terbang sangat cepat dan rendah. Sehingga dapat menembus sistem pertahanan anti-rudal tradisional.

Faktanya, itu sangat cepat sehingga tekanan udara di depan senjata membentuk awan plasma saat bergerak, menyerap gelombang radio dan membuatnya praktis tidak terlihat oleh sistem radar aktif.

Sistem pencegat rudal Aegis AS membutuhkan waktu reaksi 8-10 detik untuk mencegat serangan yang masuk.

Dalam 8-10 detik itu, rudal Zircon Rusia sudah menempuh jarak 14 mil dan rudal pencegat tidak terbang cukup cepat untuk mengejar ketinggalan.

Menurut salah satu sumber teknis, bahkan jika sebuah kapal AS mendeteksi rudal Zircon dari jarak 100 mil, hanya akan ada satu menit untuk melakukan sesuatu tentang hal itu.

Pergeseran Rusia ke senjata hipersonik kemungkinan merupakan cara untuk bersaing dengan keunggulan AS dalam ukuran, teknologi, dan banyaknya kapal induk.

Selain Rusia,China dan Korea Utara juga telah menguji peralatan semacam itu.

Alhasil rudal hipersonik langsung memicu kekhawatiran secaa global.

Wakil Perdana Menteri Rusia Yury Borisov mengatakan bulan lalu bahwa Rusia telah melampaui Barat dalam hal senjata hipersonik.

“Kami telah maju, khususnya, di bidang senjata hipersonik dan yang didasarkan pada prinsip-prinsip fisik baru," ungkapBorisov.

"Kami sekarang memiliki keuntungan serius dalam hal ini atas negara-negara Barat - dan akan mencoba untuk mempertahankan posisi ini," tutupnya.

Lihat Sumber

  • 0

  • 0

Rekomendasi Artikel

Melihat Sejong, ‘Ibu Kota’ Kedua di Korsel, Ditetapkan 2006 dan Mulai Relokasi 2012

IndozoneID

Sederet Kontroversi Arteria Dahlan yang Bikin Publik Geram

Popbela.com

1

Hong Kong Musnahkan Ribuan Ekor Hamster Setelah Pegawai Toko Hewan Terinfeksi Covid

Merdeka

Penyakit Dorce Gamalama Tak Hanya Diabetes, Kerabat Beberkan Kondisinya: Yang Dikeluhkan Kaki

Tribunwow

Nyempil di Desa, tapi Creative Space Ini lagi Hype di Ujung Madura!

IndozoneID

Tulis komentar...