Home

Kasihan, Kakek Tua ini Pilih Jadi Pemulung Padahal Sandang Gelar Doktor Lulusan Rusia. Alasannya Sungguh Miris

Keepo.me | 1 year ago

Soesilo Toer, doktor lulusan Rusia yang pilih jadi pemulung sampah akibat rezim Orba yang sangat kejam!

Usianya sudah lebih dari setengah abad tapi semangatnya untuk hidup dan berjuang tetap sama ketika beliau masih berusia belasan tahun. Setiap malam beliau berkeliling kota untuk mengais barang bekas yang masih bisa dijual dan dimanfaatkan. Dilansir dari Jawa Pos Radar Kudus, adik sang penulis legendaris, Pramoedya Ananta Toer yang tulisannya kini jadi bacaan wajib di sekolah Amerika Serikat itu kini berprofesi sebagai pemulung sampah.

Soesilo Toer dan sampah-sampah sahabatnya

Meski berprofesi sebagai pemulung yang notabene identik dengan lingkungan kotor, tapi Soesilo Toer bukanlah pemulung sembarangan. Beliau adalah lulusan doktor ilmu ekonomi politik dari Rusia yang dulu masih bergabung dengan Uni Soviet. Tak hanya itu, beliau juga sudah menerbitkan buku sebanyak 20 eksemplar dan masih ada belasan yang masih antri untuk dicetak.

Menulis buku menjadi hobi kedua setelah menajdi pemungut sampah

Di luar kegiatannya memungut sampah, sesekali beliau juga diundang untuk menjadi pembicara di kampus, meski penghasilan dari pembicara terbilang bisa membuat dapur mengepul tapi beliau masih sangat nyaman saat menjadi pemulung sampah. 

Dibanding gelar yang disandangnya, tentu penghasilan menjadi pemulung sangatlah kecil bahkan tidak ada apa-apanya. Penghasilannya itu tentu tidak pasti. Semalam kadang-kadang bisa mendapat Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Jika ditanya soal hal itu, beliau pun selalu menjawab demikian,

"Tapi apa saya makan gelar? Untuk hidup sehari-hari apa harus makan ijazah?” ujarnya berkali-kali. Bagi dia, bisa menjadikan barang yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat itu luar biasa

Berkat profesinya itu, Soes - sapaan akrabnya itu sering dipanggil rektor alias korek-korek barang kotor. Hampir setiap malam beliau keliling kota untuk mengais sampah. Beliau mencari apa saja yang bisa dijual seperti kardus, aneka botol, plastik, dan barang pecah belah, bahkan sisa makanan untuk makanan ternaknya.

Soesilo Toer sudah 'katam' merasakan pahit manisnya hidup, bahkan label sebagai anggota PKI ia terima lantaran latar belakang pendidikannya yang lulusan Uni Soviet, sepulang ke Indonesia beliau pun menjadi tahanan politik selama puluhan tahun orba berkuasa.

Soesilo Toer saat diundang sebagai pembicara di sebuah kampus

Di balik itu semua, ia baru menikmati gelar yang disandangnya itu ketika rezim Orba lengser, ia beberapa kali diundang menjadi narasumber di kampus-kampus ternama.

Soes menilai kehidupan ini adalah romantika. Kadang senang, sedih, bahagia, bangga, kecewa, juga marah.

”Hidup itu romantika. Ada yang curiga, memaki, atau mencaci. Ada yang suka. Ada pula yang kasihan. Ya, begitulah romantika kehidupan,” kata bapak satu anak itu.

Soesilo Toer justru bangga dengan pekerjaannya sekarang, sama seperti kalian bangga saat mendapat gelar sarjana, master, dan doktor. 

Masihkan kalian bersifat langit, sedangkan ada orang diluar sana yang sudah merasakan hidup belajar di negeri orang disaat negeri ini beranjak bangkit, meski akhirnya harus dicap sebagai antek komunis oleh penguasa saat itu sehingga mimpi-mimpi untuk memajukan bangsa ini pun sirna.

Sukses selalu Bapak Soesilo Toer, Tuhan memberkati bapak selalu.

Lihat Sumber

  • 2

  • 0


Rekomendasi Artikel

Gabungkan Tangan Anda Seperti Ini, Lalu Cocokan Garis Tangan Anda dan Ungkap Misteri Percintaan Anda di Sini

Intisari-online

Berbau Tak Sedap, 5 Makanan Ini Justru Kaya Manfaat

Merahputih

Viral Kotoran Sapi Ditemukan dalam Masakan Sebuah Rumah Makan Padang, Cacing-cacing Mengerikan Ini Mengintai Mereka yang Menyantapnya

Intisari-online

Awas Putus! Ini 5 Alasan Cowok Cepat Bosan saat Menjalin Hubungan

Idntimes

Hanya Dengan Modal Uang Rp3 Juta, Pria Ini Menikah Secara Sah, Seperti Ini Wujud Pernikahannya!

Intisari-online

29

Tulis komentar...