Home

7 Alasan Kenapa Kamu Tidak Boleh Mengumbar Kesedihan di Media Sosial

Idntimes | 1 month ago

Media sosial sudah menjadi tempat kreasi yang tidak terbatas bagi penggunanya. Bukan hanya sekadar untuk unjuk diri atau memamerkan gaya hidup, tetapi juga sebagai ajang cari sensasi sekadar menarik simpati dan dukungan dari netizen.

Kegunaan media sosial sekarang semakin berubah ke hal-hal yang menyangkut privasi seseorang yang tidak sepantasnya orang lain tahu. Bijak dalam menggunakan medsos itu sangat penting, apalagi yang sering galau atau labil akan mudah saja menggunakannya untuk hal-hal yang merugikan orang lain maupun diri sendiri.

Mengumbar kesedihan di media sosial di saat tidak ada orang lain yang bisa kita ajak curhat bukanlah solusi yang tepat atas suatu masalah. Jika kamu sedikit lebih berpikir sejenak, banyak sekali kerugian yang akan kamu dapatkan jika semua orang tahu bahwa kamu memiliki karakter yang sangat lemah.

1. Dalam pekerjaan, pimpinan akan menilai tingkat pengendalian emosimu lewat status-statusmu yang ada di media sosial

Kepribadian dan kesiapan mental dalam bekerja akan sangat ditentukan lewat jejak digital yang kamu tulis di media sosial. Semua orang tanpa terkecuali bos, atasan, atau pimpinan akan menilai orang seperti apakah kamu dalam menyikapi suatu masalah.

Mungkin mereka akan ragu memberikan tanggung jawab yang besar setelah membaca status-statusmu. Karena urusan pribadi kerap kali berdampak negatif terhadap pekerjaan, maka karyawan yang terlalu pesimis menjadi kurang daya tarik bagi promosi perusahaan.

2. Banyak orang yang simpati, tapi lebih banyak lagi orang yang diam-diam merasa senang melihat kamu jatuh

Dapatkah kamu menghitung jumlah musuh yang kamu punya? Penulis yakin kamu tidak akan bisa menebak atau menghitungnya dengan cepat. Karena musuh bisa saja orang-orang terdekat atau mereka yang selama ini kamu kenal baik.

Biasanya mereka yang senang dan bahagia saat membaca status-status sedihmu adalah mereka yang sebenarnya diam-diam tidak menyukai kamu merasakan kebahagiaan. Maka jangan biarkan musuh-musuhmu tersenyum kegirangan di atas penderitaanmu.

3. Kepercayaan rekan kerja atas amanah pekerjaan yang diberikan kepadamu akan berkurang

Tanggung jawab atas kepercayaan akan diberikan bagi mereka yang telaten, terlatih, dan bijak dalam bersikap. Jarang sekali tanggung jawab yang besar akan diberikan kepada mereka yang pesimis, ragu-ragu dan merasa paling tidak beruntung di dunia ini.

Jika kamu ingin menerima banyak tanggung jawab hebat dalam hidupmu, maka berhentilah mengumbar kesedihan yang hanya akan membuatmu rugi telah melepas banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik.

4. Biasanya masalah yang sering diumbar ke medsos akan semakin membesar tanpa menemui titik solusi

Di saat kamu memposting status di media sosial, maka puluhan reaksi dari netizen akan terus bermunculan tanpa kamu sadari. Lambat laun kamu pun akan berusaha menjelaskan lebih detail lagi kepada netizen atas kesedihan yang kamu rasakan saat ini.

Tanpa kamu sadari justru sedang membuat masalah itu semakin membesar tanpa menemui titik solusi yang tepat. Lebih baik kamu tidak meminta pendapat atau dukungan netizen atas masalah yang kamu rasakan.

5. Orang-orang yang selama ini mengagumimu secara perlahan akan berkurang dan menjauh

Tidak ada orang yang kagum pada si pesimis atau mereka yang kelihatan rentan dari dalam. Orang-orang lebih suka dikelilingi oleh mereka yang penuh percaya diri, optimis, dan penuh semangat menjalankan hari ketimbang para pesimis yang merasa dunianya selalu kurang beruntung.

6. Jika kamu seorang pimpinan, maka bawahan akan sulit menaruh hormat dan segan padamu

Biasanya pimpinan terkesan tegas, ditakuti, dan amat berwibawa. Jika suatu hari kamu didaulat menjadi seorang atasan dalam skala besar maupun kecil, maka jangan pernah coba-coba untuk mengumbar masalah pribadimu di media sosial. Karena setiap kata yang kamu tulis akan menjadi bahan pembicaraan di area bawahan.

7. Akan lebih bijak jika kamu menumpahkan semuanya lewat tulisan dan menyimpannya sebagai kenangan pribadi

Jika kamu perlu menumpahkan semua kesedihan dan ingin segera bangkit kembali, maka jalan satu-satunya hanyalah bercerita kepada orang yang tepat atau menulisnya di kertas kosong. Hasil luapan emosimu tidak akan merugikan siapapun selama kamu mau menyimpannya sendiri atau jika perlu kamu segera membuang hasil curahan hatimu tersebut ke tong sampah.

Kesedihan itu mutlak, dan semua manusia pasti pernah mengalaminya. Yang perlu kita lakukan saat masalah itu muncul hanyalah berdoa dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena jejak kebaikan itu akan selalu diikuti rezeki yang tiada kita kira dan dapat menghapus kenangan buruk atas kesedihan itu sendiri.

Lihat Sumber

  • 0

  • 0


Tulis komentar...