Home

Kisah tempat merayakan ketelanjangan di Jepang

BBC | 1 week ago

Hak atas foto

Print Collector

Pemandian air panas punya peran khusus pada tatanan masyarakat Japang: sebagai tempat bersantai, bersosialisasi, dan tempat di mana ketelanjangan tidak dipermalukan, melainkan diterima.

Dan dengan merendamkan diri ke dalam bak mandi yang agak panas, rasa sakit luruh dari otot-otot lelah seorang pekerja kantoran seperti saya.

Saya mengangguk sopan kepada para perempuan di seberang. Kami sependapat bahwa airnya sangat panas, sambil merendam bahu kami yang telanjang, sedikit lebih dalam.

Pemandian umum yang penuh uap dan tenang di Jepang ini telah menjadi surga untuk melepas tekanan kehidupan sehari-hari selama lebih dari 1.000 tahun.

Sumber air panas alami yang dikenal sebagai onsen sudah dikenal di seluruh dunia, bisa untuk pribadi saja atau umum.

Ada juga sento yang kurang dikenal, yaitu pemandian umum yang mengandalkan air biasa yang disaring. Ditemukan di hampir setiap tempat, orang yang ingin mandi harus telanjang bulat.

Kedua jenis pemandian umum ini memiliki seperangkat aturan ketat untuk mencuci badan sebelum masuk ke dalam air pemandian yang bersih dan bebas sabun. Selain untuk mandi, tempat ini juga menjadi ruang santai dan saling bersosialisasi bersama teman, keluarga dan rekan kerja.

  • Kisah di balik kecintaan warga Jepang terhadap kamera analog, kaset, dan vinil lawas
  • Jepang: Negara yang karyawannya paling sedikit mengambil jatah cuti kerja
  • Warga Jepang: Ahli membaca situasi dan 'gerakan wajah'

Sekarang hampir setiap rumah di Jepang sudah punya bak mandi yang sempurna untuk berendam, sehingga popularitas pemandian umum semakin berkurang, tapi tidak sebanyak yang Anda kira.

Onsen, sumber mata air kaya mineral yang dipanaskan oleh aktivitas gunung berapi alami, adalah pilihan mewah bagi warga Jepang.

Onsen diklaim bisa menyembuhkan berbagai macam hal, dari memurnikan kulit hingga mengurangi radang sendi, dan disebut-sebut dalam legenda sebagai penyembuh hewan dan dewa-dewa kuno.

Pemandian ini biasanya dirancang dengan pemandangan luar ruangan yang indah, bak dari kayu cedar tradisional dan suasana yang menenangkan. Onsen menarik pasangan dan teman yang mencari tempat istirahat santai, lepas dari kehidupan sehari-hari.

Hak atas foto

Stephanie Crohin

Image caption

Pemandian ini biasanya dihias gambar pemandangan indah.

Kota-kota yang tenang seperti Kinosaki di prefektur Hyogo dan Kusatsu di wilayah Kanto Jepang telah diubah menjadi resor karena air panas mereka yang menjanjikan. Juga, rasa nostalgia yang melekat pada jalan-jalan malam pasca berendam dalam kimono ringan yang dikenal sebagai yukata.

Meskipun daya tarik onsen mudah diapresiasi, sento menjadi pilihan sehari-hari yang lebih praktis, tapi juga agak usang di dunia sekarang ini.

Awalnya diperuntukkan bagi para biksu selama pengenalan agama Buddha di Jepang abad ke-6. Pemandian itu akhirnya dibuka untuk umum, meskipun pada awalnya hanya untuk orang sakit dan orang kaya.

Jumlah sento publik perlahan-lahan tumbuh pada abad ke-12 dan penggunaannya berkembang pada periode Edo (1603-1868). Selama era yang damai dan kaya budaya ini, dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, pemandian menjadi vital secara sosial, juga karena kepraktisannya.

Dengan menggunakan air keran yang dipanaskan, sento adalah ruang ubin terang dengan mural berwarna-warni dan harga masuk yang lebih rendah daripada onsen.

Alexia Brue, seorang penjelajah budaya mandi dari seluruh dunia, menyelidiki sejarah sento dalam bukunya yang berjudul Cathedrals of the Flesh. Dia membandingkan semangat sosial masa lalu mereka dengan kedai kopi Eropa.

Pentingnya sento sebagai ruang pertemuan komunitas yang hidup, digambarkan dalam ukiyo-e (cetakan balok kayu adegan indah dan lucu dalam kehidupan sehari-hari) warna-warni era Edo dan Meiji.

Misalnya, Toyohara Kunichika, seorang seniman abad ke-19 yang dihormati dan putra pemilik rumah pemandian, menciptakan adegan yang menggambarkan aktor kabuki yang sedang menggosok punggung kolega mereka atau para perempuan yang mengobrol dan mandi bersama anak-anak.

Namun, hari ini, karena bak mandi modern dan kebiasaan yang berubah, jumlah sento menurun dengan cepat. Tinggal 530 sento beroperasi di Tokyo, dibandingkan dengan lebih dari 2.700 pada 50 tahun yang lalu, menurut Tokyo Sento Association.

Tetapi kelangsungan hidup sento menunjukkan bahwa ada sesuatu yang unik dalam suasana sosial di dalamnya; sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diganti oleh kafe atau bar.

Hak atas foto

Stephanie Crohin

Image caption

Pengunjung harus mandi dulu sebelum masuk ke kolam air panas.

Di pemandian lokal dekat rumah saya, sebuah sento sederhana di Gotokuji, Tokyo, biaya untuk berendam hanya 460 yen (Rp58 ribu). Tarif ini ditetapkan oleh pemerintah agar mandi di sento tetap terjangkau.

Sebelum merendam badan di kolam pemandian yang agak terlalu panas itu, saya perlahan melepaskan keterhubungan saya dengan dunia luar. Dimulai dengan melepas sepatu, dan meletakkan di loker di pintu masuk.

Saya menyapa pemilik pemandian, lalu masuk ke kamar ganti, dan bertemu dengan mikrokosmos populasi perempuan Tokyo, dari cucu, hingga ke nenek mereka.

Anak-anak dibawa ke sento begitu mereka bisa berjalan untuk diperkenalkan pada dunia yang langka ini, di mana ketelanjangan tidak dirayakan atau dipermalukan, tapi diterima.

Tanpa baju renang atau kaos untuk menutupi tubuh yang pemalu, di sini setiap bentuk dan ukuran, setiap bekas luka dan kerutan perut akibat melahirkan atau obesitas dibiarkan terbuka.

"Setiap orang punya ketidaksempurnaannya sendiri dan setahu saya, ini adalah satu-satunya tempat di mana tidak ada yang peduli," kata Stephanie Crohin, seorang ekspatriat Prancis yang menjadi warga Tokyo dan sekarang menjadi duta besar Asosiasi Sento Tokyo.

Setelah jatuh cinta pada sento saat belajar di Tokyo, Crohin sekarang bekerja di Tokyo dan selalu tertarik mempromosikan manfaat pemandian umum kepada pengunjung yang ragu-ragu.

"Sento bukan dunia Instagram, tetapi kehidupan nyata, pengingat yang kita semua butuhkan ketika kita terus-menerus dihancurkan dengan kesempurnaan dunia media sosial," kata dia, dan menekankan bahwa kebutuhan ini bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

Dengan menawarkan ruang untuk ketelanjangan yang benar-benar inklusif, pemandian umum adalah tempat unik untuk membiasakan anak-anak dengan bentuk alami di dunia di mana tubuh penuh polesan sudah terlalu umum.

Hak atas foto

John S Lander

Image caption

Onsen biasanya air panas alami karena aktivitas vulkanik.

"Gadis-gadis muda belajar sejak dini bahwa tidak semua perempuan berpenampilan seperti supermodel, dan mereka tak harus nampak seperti itu," kata teman saya Tomomi Abiko, penduduk asli Jepang yang telah menikmati onsen sejak dia bisa mengingat.

Ketelanjangan mendorong penerimaan tubuh kita sendiri, dan membuka kesempatan langka untuk melakukan "skinship" - istilah yang digunakan di Jepang untuk kedekatan fisik, sering antara orang tua dan anak-anak. Ketelanjangan juga mendorong tingkat kejujuran tertentu antara mereka yang mandi bersama.

Jepang adalah budaya yang sangat hierarkis yang menghargai usia dan banyaknya pengalaman dalam dunia bisnis, seperti halnya di rumah keluarga.

Simbol rasa hormat, hubungan senpai dan kohai (mirip dengan "guru" dan "murid") dapat ditemukan di antara anak-anak sekolah, tim olahraga, kolega, dan bahkan keluarga.

Hak atas foto

Stephanie Crohin

Image caption

Pemandian ini tak hanya untuk mandi, tapi tempat bersantai dan bersosialisasi.

Meskipun penghormatan ini memunculkan peluang pengasuhan yang besar, budaya ini kadang mengurangi kejujuran. Kohai (junior) tidak ingin menentang atau mempertanyakan senpai mereka karena takut terlihat tidak sopan.

Ketika mandi, melepaskan pakaian juga menjadi simbol melepaskan posisi sosial Anda, meskipun untuk sementara. Menyediakan ruang bagi rakyat jelata dan kaum elit untuk mandi bersama, pemandian-pemandian itu adalah sebuah terobosan dalam masyarakat yang sangat hierarkis.

Mungkin agak terlalu idealis untuk percaya bahwa melepas kemeja akan mencabut semua senioritas, tetapi di Jepang konsep tersebut telah dikenal.

Konsep hadaka no tsukiai, yang secara kasar dapat diterjemahkan sebagai 'persekutuan telanjang', mencerminkan keterbukaan platonis yang hanya dapat dicapai dalam lingkungan yang begitu dekat.

Mandi bersama kerap dilakukan kolega dan keluarga, sehingga memungkinkan orang membicarakan topik kontroversial dan berbicara secara terbuka dan jujur tentang perasaan mereka.

"Jadilah apa adanya, selain dari rasa hormat untuk orang tua, semua orang ada pada level yang sama: tidak ada kaya atau miskin, tidak ada CEO atau karyawan," kata Crohin.

"Bagi saya, selama berbagai waktu di sento, kita semua memiliki nilai yang sama."

Banyak pekerja di Jepang tinggal di asrama perusahaan yang hanya bisa mandi di pemandian bersama. Maka, mandi bersama umum dilakukan. Pemandian memberikan kesempatan yang baik untuk membuka diri pribadi, baik itu dengan rekan kerja, teman dekat atau keluarga, Abiko menjelaskan.

"Bagi saya, hadaka no tsukiai membantu menjalani waktu yang berkualitas dengan ibu saya," katanya.

"Tentu saja, kami berbicara di rumah juga, tetapi telanjang dan bersantai di air panas membantu saya untuk lebih terbuka dan berbicara tentang hal-hal yang biasanya tidak dibicarakan."

"Mungkin karena alasan yang sama, ketika pergi ke onsen dengan teman dekat, Anda kemungkinan besar akan membahas hubungan romantis Anda," ujarnya.

Meskipun pengalaman-pengalaman ini secara bersamaan membentuk citra pemandian sebagai tempat yang benar-benar sosial, dikunjungi oleh keluarga dan kelompok untuk berbagi koneksi yang sulit ditemukan di tempat lain, banyak orang juga mandi sendirian.

Baik itu kesempatan untuk bersantai setelah bekerja atau tempat untuk terhubung dengan alam, pemandian masih menawarkan sesuatu yang tidak bisa dilakukan di apartemen. Namun, bagi Crohin, yang mengunjungi banyak sento sendirian sebagai bagian dari pekerjaannya, komunitas selalu hadir.

"Saya tidak pernah benar-benar sendirian. Saya sering berbicara dengan para perempuan yang berbagi kamar mandi dengan saya dan pemiliknya; Sento adalah keluarga saya di Jepang," kata Crohin.

Memadukan uap air dengan rahasia, pemandian di Jepang adalah gelembung unik ruang sosial.

Mereka menawarkan tempat berlindung dari konstruksi sosial, harapan, dan kritik dari dunia sehari-hari, dan menumbuhkan lingkungan yang jujur dan penuh dukungan.

Meskipun secara praktis pemandian mungkin tidak lagi diperlukan dalam masyarakat kontemporer, ada kebutuhan abadi untuk semangat komunitas yang mereka asuh.

Ketika saya duduk kembali di sento lokal saya, mendiskusikan kafe-kafe favorit dengan teman-teman baru, kehangatan nyata yang ditangkap dalam cetakan Kunichika, tiba-tiba terasa abadi.

Tulisan ini sebelumnya dimuat diBBC Traveldengan judulJapan's naked art of body positivity

Topik terkait

  • Jepang
  • Seni budaya

Lihat Sumber

  • 7

  • 0

Rekomendasi Artikel

Paus Fransiskus Jatuh Sakit, Sehari Setelah Dukung Penderita COVID-19

Okezone

2

Ruben Onsu Temukan Betrand Peto Menangis di Kamar Mandi, Gegara Dimarahi karena Buat Thalia Nangis?

Tribunnews

3

Gisel Hingga Boy William, Ini 6 Artis yang Diduga Terlibat Kasus Pembobolan Kartu Kredit

Tribunnews

3

Jagat dunia hiburan Tanah Air kembali berduka dengan meninggalnya selebgram Mylisa Sanny. Kendati demikian, Ivan Gunawan turut merasa bersedih untuk menyampaikan ungkapan dukanya.

Wow Keren

1

Pindah Agama, Pesona Manohara di Depan Kamera So Georgeus

Okezone

1

Tulis komentar...