Home

Fakta Sidang Bertolak Belakang, Jaksa Sebut Tuduhan Pelecehan pada Putri Candrawathi Tak Cukup Bukti

TribunManado | 2 weeks ago

TRIBUNMANADO.CO.ID - Fakta sidang bertolak belakang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyimpulkan bahwa pelecehan seksual yang dialami Putri Candrawathi tidak cukup alat bukti.

JPU menjelaskan bahwa keterangan terdakwa Putri Candrawathi yang merasa telah mengalami pelecehan seksual dinilai janggal.

Keraguan JPU tersebut karena tidak adanya alat bukti yang kuat.

Hal itu terungkap ketika JPU membacakan tuntutan untuk terdakwa Putri Candrawathi pada sidang tuntutan hari ini, Rabu (18/1/2023) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Adapun dalam sidang justru terungkap fakta-fakta persidangan yang bertolak belakang dengan keterangan terdakwa Putri Candrawathi.

Link Live Streaming Sidang Tuntutan Putri Candrawathi di PN Jakarta Selatan Hari Ini (Youtube Tribunnews.com)

Di mana Putri Candrawathi menerangkan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J).

Sebagaimana keterangan saksi Richard Eliezer, saksi Kuat Maruf, saksi Susi, dan saksi Ricky Rizal.

Mereka menyatakan bahwa tidak melihat dan tidak mengetahui jika terdakwa Putri Candrawathi telah dilecehkan oleh Brigadir J.

Selain itu, juga karena tidak adanya dukungan alat bukti surat berupa hasil visum.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, justru menunjukkan keterangan terdakwa Putri Candrawathi yang merasa telah mengalami pelecehan seksual dinilai janggal karena tidak didukung oleh alat bukti yang kuat.

"Berdasarkan pada keterangan saksi-saksi fakta yang ada di Magelang, yaitu saksi Kuat Maruf dan saksi Susi yang ada pada saat kejadian justru tidak melihat terdakwa Putri Candrawathi dilecehkan oleh Brigadir J."

"Keterangan saksi Kuat Maruf dan saksi Susi juga diperkuat dengan keterangan saksi Richard Eliezer dan saksi Ricky Rizal yang menerangkan tidak mengetahui apakah terdakwa Putri Candrawathi benar atau tidak dilecehkan oleh Brigadir J," ungkap JPU, Rabu (18/1/2023), dilansir YouTube Kompas TV.

Putri Candrawathi Dituntut 8 Tahun Penjara

Dalam perkara ini, JPU meminta kepada Majelis Hakim PN Jakarta Selatan agar menyatakan terdakwa Putri bersalah melakukan tindak pidana turut serta dalam melakukan pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu.

Sebagaimana diatur dalam pidana dakwaan primer Pasal 340 KUHP Juncto Pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP.

JPU menuntut Putri Candrawathi delapan tahun penjara dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

"Menjatuhkan pidana terhadap Putri Candrawathi dengan pidana penjara selama delapan tahun," ucap JPU di PN Jakarta Selatan, Rabu (18/1/2023).

Selanjutnya, pihak terdakwa Putri Candrawathi akan diberikan waktu satu minggu untuk menyiapkan pembelaan di Pledoi nanti.

Sebagai informasi, Brigadir J tewas ditembak pada 8 Juli 2022 lalu.

Brigadir J tewas setelah dieksekusi di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Penembakan ini dilakukan lantaran Brigadir J diduga telah melecehkan Putri Candrawathi.

Karena hal tersebut, Ferdy Sambo merasa marah dan menyusun strategi untuk membunuh Brigadir J.

Dalam kasus ini, lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka, yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Ricky Rizal (Bripka RR), Kuat Ma'ruf, dan Richard Eliezer (Bharada E).

Kelima terdakwa tersebut didakwa melanggar pasal 340 subsidair Pasal 338 KUHP Juncto Pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Terdakwa kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Putri Candrawathi menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (18/1/2023). (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Tambahan hukuman untuk Ferdy Sambo juga dijerat dalam kasus perintangan penyidikan atau obstruction of justice bersama dengan Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria, Chuck Putranto, Irfan Widianto, Arif Rachman Arifin, dan Baiquni Wibowo.

Para terdakwa tersebut merusak atau menghilangkan barang bukti termasuk rekaman CCTV Kompleks Polri, Duren Tiga.

Dalam dugaan kasus obstruction of justice tersebut mereka didakwa melanggar pasal 49 juncto pasal 33 subsidiar Pasal 48 ayat (1) j8uncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau dakwaan kedua pasal 233 KUHP subsidiar Pasal 221 ayat (1) ke 2 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Lihat Sumber

  • 0

  • 0

Rekomendasi Artikel

Kenapa Pusing Setelah Makan Durian? Ini Penyebabnya

IDN Times

40 Gambar Rumah Adat di Indonesia dari Semua Provinsi Lengkap

99.co

Anggota Banser Lamongan Disuntik Vitamin Sebelum Datangi Puncak Peringatan 1 Abad NU di Sidoarjo

TribunMataraman

[POPULER MONEY] Cara Kerja dan Tips Menghindari Modus Penipuan File APK hingga Garuda Buka Opsi Penggunaan Jilbab Bagi Pramugari

Kompas.com

7 Fakta Kehidupan Seks Aquarius di Atas Ranjang

POPMAMA.COM

Tulis komentar...