Home

Alasan Anak Membenci Orangtua, Apa karena Kesalahan Pola Asuh?

POPMAMA.COM | 1 month ago

Setiap orangtua pasti selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, terkadang orangtua tidak sadar apakah yang mereka lakukan tersebut disenangi oleh anak-anaknya atau tidak.

Di dunia ini, tidak ada orangtua yang sempurna. Semakin anak dewasa, maka semakin sadar bahwa beberapa perlakuan yang dilakukan orangtua tidak sepenuhnya benar. 

Walaupun awalnya digunakan untuk kebaikan sang anak, namun siapa yang tahu bahwa tindakan tersebut ternyata memberikan dampak yang besar pada anak. Hal inilah yang terkadang membuat anak menjadi membenci orangtuanya.

Sebagai orangtua, tentu Mama tidak ingin anak jadi menaruh kebencian kepada orangtua. Orangtua dan anak yang tidak akur dan selalu berseteru merupakan salah satu contoh kecil alasan anak membenci orang tua.

Hal ini biasanya terjadi karena orangtua yang terlalu mengekang, kasar, sibuk bekerja bahkan terkadang sampai melupakan dan tidak pernah menaruh perhatian pada anak. Beberapa pola asuh yang tidak baik membuat anak menjadi membenci orangtua.

Sebagai manapun anak, tentu ingin mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Maka perlu bagi orangtua untuk menerapkan pola asuh yang baik bagi anak.

Berikut Popmama.com sudah merangkum berbagai alasan kebencian anak terhadap orangtua. Simak penjelasannya yuk, Ma!

1. Selalu membandingkan dan memberi kritik yang menjatuhkan pada anak

Pexels/Monstera

Selalu membandingkan secara berlebihan tidak akan membuat anak menjadi berkembang, justru akan membuat anak menjadi semakin merasa gagal. Pada hakikatnya tidak ada seorang pun yang suka dibandingkan, begitu pula dengan anak.

Membandingkan belum tentu dapat membuat anak menjadi lebih berkembang, apalagi dibandingkan dengan cara negatif dan malah membuat anak menjadi terpojok. Hal ini justru akan membuat anak merasa kecewa dan tentunya akan sakit hati. 

Timbulnya rasa sakit hati akan menjadi penyebab anak mulai membenci orangtuanya. 

Banyak orangtua yang mengira bahwa membandingkan anak tentu akan membuat anak menjadi lebih baik dan belajar menjadi lebih baik. Namun, pada kenyataannya hal seperti itu tidak semuanya dapat terjadi.

Ada pula anak yang tidak suka dibandingkan, dan ini akan membuat ia merasa tidak dihargai. Biasanya orangtua juga sekaligus memberikan kritikan pedas yang dibarengi dengan perbandingan pada anak.

Setiap perkataan yang keluar dari mulut orangtua akan memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan identitas anak. Selain itu, anak juga memiliki perasaan yang sangat rapuh.

Maka dari itu ingatlah untuk tidak mengatakan apapun yang Mama sendiri tidak ingin dengar dari orang lain. Apabila ingin mengajarkan pada anak, Mama tidak perlu harus membandingkan mereka dengan orang lain.

Beri penjelasan dan ajarkan seseorang tersebut agar dapat menjadi panutan bagi anak, sehingga anak pun mau mulai mempelajarinya. Tapi ingatlah untuk selalu memberikan penjelasan dengan kalimat yang baik dan tidak mencela anak.

Namun, apabila kemampuan tersebut bukanlah kemauan dari anak, Maka Mama tidak perlu terlalu memaksanya karena akan membuat ia tidak percaya diri dan menjadi tidak yakin dengan keterampilan yang ia miliki.

Sebaiknya Mama dapat menanyakan keterampilan atau bakat apa yang mereka sukai.

2. Terlalu otoriter dan selalu mengontrol penuh kegiatan anak

Pexels/Karolina Grabowska

Tidak semua hal yang menurut orangtua benar belum tentu baik bagi anak. Orangtua terkadang terlalu bersikap otoriter dan tidak mau mendengarkan anak. Tidak semua pula semua kegiatan anak harus dikontrol oleh orangtua.

Semakin bertambah umur anak pun semakin memiliki keinginannya sendiri, termasuk hal pribadi mereka. 

Orangtua tidak dapat memaksakan kehendaknya pada anak, mulai dari memilih sekolah, jurusan, pekerjaan, teman, bahkan pasangan adalah hak dari anak sendiri. Apalagi beberapa hal tersebut juga dilakukan dengan membandingkan anak dengan orang lain.

Tentunya akan membuat anak semakin kesal karena merasa kehidupan mereka terlalu diatur. Walaupun sebenarnya hal tersebut memiliki niat yang baik, namun akan lebih baik bila Mama menanyakan terlebih dahulu apa keinginan anak. 

Bukan dengan memaksanya untuk harus mengikuti semua keinginan orangtua. Namun, apabila menurut Mama pilihan anak tidak terlalu baik, Mama dapat memberikan masukan dan saran pada anak untuk meminimalisir hal buruk.

Menurut sebuah penelitian di Amerika, orangtua yang terlalu melarang anaknya untuk mengeksplor diri serta lingkungan sekitarnya, seolah menganggap anak dilahirkan secara lemah sehingga tidak dapat lepas dari intervensi orangtua.

3. Menjadi pelampiasan amarah orangtua

Pexels/Karolina Grabowska

Apabila orangtua memiliki masalah atau sedang berada dalam pertengkaran, maka tidak seharusnya melibatkan anak dengan amarahnya. Hal ini karena anak masih membutuhkan perhatian dan juga kehangatan dalam sebuah keluarga.

Anak bukanlah barang yang dapat menjadi pelampiasan dari amarah orangtua. Kata-kata kasar dan bentakan dari orangtua bukanlah hal yang ingin didengar oleh anak.

Justru, hal ini akan membuat anak menjadi takut dan menimbulkan trauma pada anak. Menurut sebuah studi, kemarahan yang terjadi antara anak dan orangtua tidak hanya berdampak pada hubungan orangtua dan anak saja, namun juga berdampak pada hubungan sosial sang anak kedepannya.

Apalagi ditambahkan dengan adanya bentuk kekerasan fisik yang dilakukan oleh orangtua akibat kekesalannya yang dilampiaskan pada anak. Hal ini nantinya akan membuat anak menjadi pribadi yang agresif.

4. Membuat malu anak di depan banyak orang

Pexels/SHVETS production

Saat sedang bersama orangtua, anak terkadang melakukan kesalahan yang tidak di sengaja. Dengan memarahi anak di depan umum seperti ini tentu membuat anak merasa dipermalukan dan membuat ia tidak percaya diri.

Ditambah dengan memarahi anak bukan membuat anak jadi menerima teguran tersebut namun akan membuat anak tidak menghormati orangtuanya.

Justru, hal ini akan membuat anak mendapatkan citra negatif dan membuatnya menjadi selalu mengingat peristiwa yang membuatnya malu tersebut. Sebaiknya, orangtua dapat menahan dan mencoba untuk berbicara pada anak dari hati ke hati agar anak lebih mengerti.

5. Selalu merasa paling benar dan tidak menerima pendapat orang lain

Pexels/Monstera

Setiap kehidupan yang dimiliki oleh anak dan orangtua berbeda-beda. Apa yang dilakukan oleh orangtua pada zaman dahulu belum tentu dapat diterapkan pada anak. Jangan memaksakan seolah-olah apa yang dilakukan oleh orangtua juga harus dilakukan oleh anak.

Hal ini karena setiap orang memiliki keahlian dan ceritanya masing-masing.

Selain itu, cobalah untuk mendengarkan pendapat anak. Kebanyakan orangtua tidak mau mendengar dan lebih memilih memaksa anak melakukan apa yang mereka minta. 

Anak memiliki hak nya sendiri untuk memilih, mereka memiliki kemampuan dalam bidangnya masing-masing yang tidak dapat disamaratakan. Orangtua yang memiliki sifat egois dan ingin menang sendiri tidak disukai oleh anak.

Tidak hanya anak, apabila Mama bertemu orang yang memiliki sifat seperti itu belum tentu Mama juga akan menyukainya, kan?

Sifat seperti ini kerap membuat anak menjadi tidak nyaman karena tidak dapat mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Selain egois, sifat ini juga memberikan contoh yang tidak memiliki rasa simpati terhadap orang lain. 

Tentunya, hal ini tidak disukai oleh anak dan akan membuat anak membenci orangtuanya.

6. Menceritakan keburukan anak pada orang lain

Pexels/Sam Lion

Tidak hanya kelebihan, anak tentu juga memiliki kekurangannya masing-masing. Dengan menceritakan kekurangan anak pada orang lain tentu akan membuat anak merasa malu.

Sikap ini justru akan menghilangkan kesan kehangatan dalam sebuah keluarga. Menceritakan keburukan anak sama seperti membuka perilaku buruk anak, hal ini tentu akan membuat anak menjadi dipandang tidak baik bagi orang lain. 

Maka sebaiknya janganlah menceritakan keburukan anak, kecuali Mama memang ingin mencari solusi. Namun, janganlah menceritakannya ke sembarang orang.

Sikap yang dipandang anak terhadap orangtuanya dipengaruhi oleh sikap seperti apa yang Mama berikan pada mereka. Maka sebaiknya perlu berhati-hati dalam mendidik anak agar nantinya tidak menjadi bumerang untuk diri sendiri.

7. Terlalu kelewat protektif

Pexels/Liza Summer

Orangtua yang protektif tentu baik dalam perkembangan anak. Tidak hanya khawatir, namun juga sekaligus mengantisipasi terjadinya hal-hal yang buruk pada anak. Namun, memiliki sifat yang kelewat protektif juga tidak baik.

Hal ini akan membuat anak merasa terkekang dan tidak dapat mengekspor hal-hal yang ia sukai. Anak perlu mengeksplorasi kehidupan yang ia jalani untuk mencari jati diri sekaligus memperkenalkan ia pada kehidupan yang lebih luas.

Walaupun berniat baik, tidak seharusnya orangtua terlalu membatasi hak anak. Salah satunya dalam pergaulan.

Setiap orangtua tentu menginginkan anak memiliki lingkungan pergaulan yang baik dan positif. Maka tidak jarang apabila orangtua sering bertanya kepada teman atau orang-orang yang dekat dengan anak secara intens. 

Namun, dengan menginterogasi mereka akan membuat pandangan mereka menjadi buruk terhadap Mama. Hal ini karena tindakan tersebut tampak seperti melanggar privasi mereka. 

Selain itu, hal ini justru akan membuat anak menjadi tertutup dan memilih untuk menyimpan rahasianya pada orangtua. Terlalu protektif akan membuat anak jadi membenci orangtua karena mereka tidak memiliki kebebasan akibat terlalu dibatasi.

Hilangnya kebebasan dalam berekspresi membuat anak menjadi lebih senang apabila tidak berada dekat dengan orangtua. Maka sebaiknya biarkan anak memiliki kebebasan dalam berekspresi.

Hal ini karena kebebasan ekspresi juga sama pentingnya bagi anak karena dapat sekaligus membuat anak banyak belajar dari pengalaman yang ia miliki.

Nah, itulah beberapa alasan mengapa anak dapat membenci orangtuanya. Jangan sampai hal seperti ini malah terjadi pada Mama dan anak mama. 

Anak yang sudah Mama besarkan sepenuh hati akhirnya malah berujung kebencian anak terhadap orangtua dalam mengasuh dan menyikapi perkembangan anak.

Lihat Sumber

  • 2

  • 0

Tulis komentar...